Keesokan paginya, ketika fajar bahkan belum sepenuhnya menyingsing dan kabut tipis masih menyelimuti halaman rumah, Alia sudah terjaga. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya.Alia menyibak selimut, melangkah pelan keluar dari kamar agar tidak menimbulkan suara desitan dari lantai kayu. Namun, begitu dia sampai di dekat dapur, aroma gurih bumbu ketumbar, bawang putih, dan kebulan asap tipis dari kayu bakar sudah memenuhi ruangan. Di sana, sang bibi sedang sibuk berdiri di depan sebuah wajan besi besar, membolak-balikkan tempe dan bakwan yang berdesis di dalam minyak panas. Di sudut lain, beberapa wadah plastik besar sudah penuh berisi bihun goreng dan pisang cokelat yang baru matang."Bibi... kok udah bangun, cepat banget?" tanya Alia lirih sembari melangkah mendekat.Bibi menoleh, sedikit terkejut."Eh, Alia. Kenapa bangun jam segini, Nduk? Harusnya kamu istirahat aja dulu," ujar Bibi dengan nada khawatir yang tulus.Alia tersenyum tipis, sebuah senyuman
最後更新 : 2026-06-09 閱讀更多