Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 112 : Azoospermia

Share

Bab 112 : Azoospermia

Author: Kim Hwang Ra
last update publish date: 2026-05-31 19:55:28

Alia menunggu di ujung gang yang remang-remang bersama Pak Joko. Tak seberapa lama, sepasang lampu sorot dari mobil sedan mewah milik Rendra berhenti tepat di depan mereka. Rendra bergegas turun dari kursi kemudi.

Rendra melangkah mendekat, mengangguk hormat, dan menjabat tangan Pak Joko sembari berterima kasih karena telah menjaga istrinya. Usai basa-basi singkat itu, Alia segera melangkah masuk ke dalam mobil. Sebelum pintu ditutup, dia menurunkan kaca jendela, melambaikan tangan dengan senyu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 123 : Ibu Kedua

    Bibinya dan Sari langsung menyusul ke belakang. Bibinya mengusap-usap tengkuk Alia dengan penuh rasa khawatir, sementara Sari sibuk mengambilkan segelas air hangat."Ya ampun... Alia, kamu sakit apa toh, Nduk?" tanya Bibinya, suaranya bergetar cemas melihat tubuh Alia yang lemas hingga harus bersandar pada dinding kamar mandi. "Badanmu dingin begini, keringatmu keluar semua.""Cuma... cuma pusing sedikit kok, Bi. Mual biasa," bisik Alia parau, mencoba meraih gelas air hangat dari tangan Sari untuk berkumur. Namun, begitu dia mencoba melangkah keluar, lututnya mendadak lemas. Pandangannya berputar hebat hingga dia hampir terjatuh jika Sari tidak dengan sigap menangkap pinggangnya."Ibu! Ini Mbak Alia lemes banget! Udah, gak usah nunggu besok, kita bawa ke klinik desa sekarang aja!" seru Sari panik.Bibinya tidak berpikir dua kali. "Iya, iya! Kamu ambil kain jarik di kamar Ibu buat selimutan Mbakmu. Ibu mau panggil Pak RT di depan buat minta tolong antar pakai mobilnya!"*********Suasa

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 122 : Mual Lagi

    "Nggak diapa-apain yang gimana-gimana sih, Mbak. Tapi mereka jahilnya kelewatan!" jawab Sari sewot. "Karena Sari tetep ngelawan dan sempat gigit tangan temannya, mereka malah ngetawain Sari. Terus tangan Sari diikat pakai tali di pohon beringin besar dekat gudang tua belakang sekolah. Mbak tahu kan pohon yang katanya ada penunggunya itu? Sari ditinggal sendirian di sana hampir satu jam lebih, Mbak!"Alia menutup mulutnya dengan tangan, terkejut sekaligus marah membayangkan adik sepupunya diperlakukan seperti itu. "Astaga, Sari... Kenapa kamu gak cerita sama Ibu?""Sari takut, Mbak! Ibu kan orangnya gampang panik dan darah tinggi," keluh Sari sambil menunduk. "Gara-gara diikat di pohon itu, Sari kelewatan jam pelajaran matematika. Pas Sari bisa lepasin diri dan balik ke kelas, gurunya gak mau denger alasan Sari. Sari dituduh bolos, terus dihukum lagi disuruh bersihin kamar mandi sekolah sendirian sampai sore. Padahal Sari itu korban!"Air mata Sari akhirnya menetes juga. Dia mengusapny

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 121 : Semua Ada Sebabnya

    Alia menghentikan gerakannya yang sedang berusaha memisahkan mereka. Dia menoleh pelan, menatap Sari dengan dahi berkerut dalam. "Sari... Kamu beneran lakuin kayak gitu?"Sari langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, menggigit bibir bawahnya dengan wajah bersalah yang sangat kentara. Kepolosan anak nakal itu runtuh seketika saat rahasianya terbongkar di depan Alia. "I-itu... itu karena pacarnya Kakak ini yang duluan jahat, Mbak..." bisik Sari sangat lirih, suaranya mendadak mencicit ketakutan."Tuh, kan! Kakak lihat sendiri! Dia ngaku!" seru anak SMA itu penuh kemenangan, kembali menarik lengan Sari dengan sentakan keras. "Pacarku sampai harus pulang pakai sarung kemarin karena celananya menempel di jok motor! Hari ini aku mau bawa anak ini ke kepala sekolahnya langsung agar dia dikeluarkan dari sekolah!""Tunggu dulu! Lepaskan dulu tanganmu!" bentak Alia, kali ini suaranya berubah menjadi sangat dingin.Alia menarik Sari ke belakang punggungnya, melindunginya sepenuhnya dari j

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 120 : Masalah Sari

    Setelah bel masuk kelas berbunyi panjang dan area kantin kembali sunyi senyap, Alia membantu Bibi membereskan wadah-wadah plastik yang kini sebagian besar sudah kosong melongpong.Alia mengelap tangannya dengan selembar kain bersih, lalu menghampiri Bibinya yang sedang menghitung uang pecahan ribuan yang tampak lecek di dalam kotak kaleng bekas wafer."Bi, Alia mau izin pergi ke pasar induk di depan kelurahan bentar, boleh?" tanya Alia lembut. "Ada yang mau Alia beli, sekalian nanti makan siang biar Alia aja yang masak."Belum sempat Bibi memberikan jawaban, sebuah kepala dengan rambut dikuncir kuda mendadak menyembul dari balik tiang stan."Ikut, Mbak! Sari mau ikut ke pasar! Sekalian Sari temani bawa belanjaannya biar ngga berat!" seru Sari penuh semangat, melompat kecil ke samping Alia.Mendengar penuturan anaknya, wajah teduh Bibinya seketika berubah ketat. Beliau meletakkan kaleng uangnya dengan ketukan yang cukup keras di atas meja."Sari! Kamu ini apa-apaan?!" omel Bibi dengan n

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 119 : Cinta Baru

    Keesokan paginya, ketika fajar bahkan belum sepenuhnya menyingsing dan kabut tipis masih menyelimuti halaman rumah, Alia sudah terjaga. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya.Alia menyibak selimut, melangkah pelan keluar dari kamar agar tidak menimbulkan suara desitan dari lantai kayu. Namun, begitu dia sampai di dekat dapur, aroma gurih bumbu ketumbar, bawang putih, dan kebulan asap tipis dari kayu bakar sudah memenuhi ruangan. Di sana, sang bibi sedang sibuk berdiri di depan sebuah wajan besi besar, membolak-balikkan tempe dan bakwan yang berdesis di dalam minyak panas. Di sudut lain, beberapa wadah plastik besar sudah penuh berisi bihun goreng dan pisang cokelat yang baru matang."Bibi... kok udah bangun, cepat banget?" tanya Alia lirih sembari melangkah mendekat.Bibi menoleh, sedikit terkejut."Eh, Alia. Kenapa bangun jam segini, Nduk? Harusnya kamu istirahat aja dulu," ujar Bibi dengan nada khawatir yang tulus.Alia tersenyum tipis, sebuah senyuman

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 118 : Kampung Halaman

    Dengan jari-jari yang gemetar di atas layar ponselnya, Alia membuka aplikasi pemesanan tiket. Kepalanya yang masih berdenyut nyeri dipaksa berpikir cepat. Dia tidak butuh waktu lama untuk memutuskan ke mana tujuannya. Hanya ada satu tempat di dunia ini yang selalu terasa seperti rumah sejati baginya, tempat di mana dia tidak perlu memakai topeng sebagai dosen terhormat atau menantu keluarga konglomerat yang sempurna.Kampung halamannya. Rumah bibinya.Setelah mengamankan satu tiket penerbangan paling awal yang tersisa untuk sore itu, Alia langsung memesan taksi daring menuju bandara. Di dalam taksi, dia menatap kosong ke luar jendela. Dia tidak membawa pakaian ganti, tidak membawa dompet tebal, ataupun paspor. Dia hanya pergi bersama pakaian yang melekat di tubuhnya, sebuah flat shoes, dan ponsel dengan sisa daya yang terus berkurang. Baginya, pakaian mahal dan semua kemewahan di rumah Rendra tidak lebih dari sekadar kain kafan yang perlahan-lahan mencekik jiwanya.Saat taksi melaju m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status