Daniel melangkah keluar dari ruangannya dengan perasaan yang hancur. Ia mengabaikan tatapan para karyawan yang masih terus berbisik di koridor. Fokusnya hanya satu, yaitu pintu besar berbahan kayu jati di ujung lorong yang merupakan ruang kerja ayahnya, Hadi Sanjaya. Bagi Daniel, ruangan itu selalu terasa seperti pengadilan, dan pagi ini ia tahu vonis berat sedang menantinya. Saat Daniel mendorong pintu tersebut, ia tidak disambut dengan keheningan. Sebuah map tebal melayang di udara dan mendarat tepat di bawah kakinya. Daniel tersentak, menghentikan langkahnya seketika. Di balik meja besar yang megah, Hadi Sanjaya berdiri dengan wajah yang memerah padam karena amarah yang memuncak. Napasnya terdengar berat dan kasar, memenuhi ruangan yang luas itu. "Apa yang kamu lakukan semalam, Daniel?" suara Hadi terdengar rendah namun sangat tajam, seperti sembilu yang menyayat. Daniel menunduk, tidak berani menatap mata ayahnya. "Pihak kami hanya ingin mempercepat publikasi, Pa. Kami pikir den
Last Updated : 2025-12-28 Read more