Dengan gerakan refleks yang halus namun tegas, Jessie memundurkan kursi kerjanya hingga berdecit pelan di lantai. Ia berdiri, membuat jarak fisik yang nyata di antara mereka, sehingga tangan Dimas menggantung canggung di udara tanpa sempat menyentuh bahunya.“Sudah tidak apa-apa, Dim,” ucap Jessie. Suaranya tenang, tapi tatapannya lurus, tidak lagi menyisakan celah untuk basa-basi yang terlalu akrab. Dimas menarik kembali tangannya, jelas sedikit kikuk. Ia tertawa kecil, berusaha menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menyelinap di antara mereka. “Oh, iya. Kupikir kamu terkilir atau sakit, setelah kemarin,” katanya, nada suaranya dibuat seringan mungkin.Jessie mengangguk singkat. “Terima kasih perhatiannya. Tapi aku baik-baik saja.”Ia meraih map di atas meja, memeluknya di dada seperti penanda batas yang tak terucap. Bahasa tubuhnya jelas tidak defensif, tapi tegas. Dimas tentu menangkap itu. Ia melirik sejenak ke arah kubikel lain sebelum kembali menatap Jessie.“Kalau begitu, aku
Last Updated : 2025-12-14 Read more