Pukul satu dini hari. Suasana rumah sudah senyap, namun ketegangan di ruangan itu justru memuncak. Diana membuka pintu dengan perlahan.Ia tidak langsung masuk, hanya berdiri di ambang pintu, menatap pria yang biasanya berdiri tegak dengan keangkuhan yang memikat, kini tampak hancur berkeping-keping.“Berhenti di sana, Diana,” suara Daniel parau, tanpa menoleh ke arah pintu.Diana tidak patuh. Ia melangkah masuk, suara kakinya teredam karpet bulu yang tebal. “Daniel, ini sudah botol kedua. Kamu akan merusak dirimu sendiri kalau terus begini.”Daniel tertawa, suara tawa yang kering dan menyakitkan. Ia menuangkan cairan amber itu ke gelasnya dengan tangan yang sedikit gemetar. “Merusak diriku? Rumah ini sudah rusak sejak lama, Diana. Aku hanya sedang menyesuaikan diri dengan dekorasinya.”“Lihat dirimu,” Diana berdiri di depan meja besar itu, menatap mata Daniel yang merah dan sayu.“Mana Daniel yang tadi pagi begitu yakin bisa menghancurkan Kenny? Mana pria yang bilang padaku bahwa keb
Terakhir Diperbarui : 2026-03-10 Baca selengkapnya