Diana kemudian meraih kedua tangan Daniel, dan menggenggamnya dengan jemari yang kini sudah tidak lagi gemetar.Matanya menatap lekat ke dalam mata gelap pria itu, mencari sisa-sisa keraguan yang mungkin masih bersembunyi di sana.“Daniel, tatap aku,” bisik Diana lembut. “Aku tidak peduli pada gedung Ars Group. Aku tidak peduli pada koleksi mobilmu atau berapa banyak angka di dalam rekeningmu. Aku di sini bukan karena itu semua.”“Semua orang menginginkan sesuatu dariku, Diana. Ibuku, Kenny, bahkan wanita-wanita sebelum kamu. Mereka melihatku sebagai aset, bukan manusia,” ucap Daniel dengan parau.“Tapi aku melihatmu,” sela Diana lalu membawa tangan Daniel ke pipinya, dan membiarkan kulit kasar pria itu merasakan kehangatan wajahnya.“Aku melihat luka yang kamu sembunyikan di balik jas mahalmu. Aku ingin kamu sembuh, Daniel. Aku ingin kamu tahu bahwa kamu layak dicintai tanpa harus memberikan apa pun sebagai imbalannya. Aku ingin menjadi tempatmu pulang, bukan sekadar bawahanmu.”Mend
Terakhir Diperbarui : 2026-03-02 Baca selengkapnya