“Pergilah, pergi… Tidak ada lagi lilin sisa yang bisa kau kumpulkan di belakang,” ujar pemilik kedai minum yang terletak di deretan kanan jalan. Salah satu dari tiga kedai yang masih beroperasi di deretan panjang itu.Anak laki-laki berpakaian compang camping yang baru saja diusir masih tinggal di depan toko, berdiri dengan karung coklat yang tersampir di punggung sambil mendongak kepada pemilik kedai, tampak enggan pergi dari sana.Melihat ia begitu keras kepala, pemilik kedai berperut besar itu menghela napas, berkata padanya, “Benar-benar tidak ada sisa lilin lagi. Demi menghemat, kami mengumpulkan semua sisa lilin untuk dipakai kembali. Jadi tidak ada lagi yang dibuang.” Setelah berkata begitu, pria itu mendongak lesu, mengusap perutnya yang bulat, “Apa boleh buat, dengan keadaan yang semakin memburuk dari hari ke hari, hal yang bisa digunakan akan digunakan hingga tak bersisa.” Seolah sadar anak sekecil itu mungkin tidak akan memahami perkataannya, ia melambaikan tangan, “Sekar
Read more