Gedung Arkana Tower berdiri angkuh di pusat SCBD Jakarta, sebuah monumen kaca dan baja yang seolah menantang langit. Di lantai 52, di balik pintu jati yang kedap suara, Daniel Arkana duduk menatap panorama kota yang gemerlap. Namun, pikirannya tertinggal ribuan kilometer jauhnya, di sebuah rumah petak beratap seng yang lembap oleh uap kebun sawit.Bagi dunia, Daniel adalah sosok yang tragis. Seorang miliarder yang kehilangan istri dan anaknya dalam sebuah "kecelakaan" yang tak pernah benar-benar dijelaskan. Ia tampil di depan publik dengan setelan hitam yang selalu tampak sedikit terlalu longgar, wajah yang jarang tersenyum, dan sorot mata yang kosong. Itulah topeng yang ia kenakan untuk menidurkan musuh-musuhnya.Serigala di Dalam Ruang RapatPagi itu, suasana di ruang rapat utama sangat tegang. Handoko, salah satu komisaris senior yang telah mengabdi sejak zaman ayah Daniel, mengetukkan pena peraknya ke meja marmer dengan ritme yang mengganggu."Daniel," suara Handoko berat dan penu
Mehr lesen