Keheningan di atap sekolah itu perlahan mencair, namun tidak dengan cara yang romantis. Ada rasa canggung yang baru—sebuah pengakuan atas beban yang selama ini mereka pikul sendirian. Almira menarik napas dalam, mencoba menjernihkan pikirannya dari sisa-sisa emosi."Tugas akhir kelompok kita," ujar Almira, suaranya kini lebih stabil. "Aku tidak mau ada campur tangan dari tim riset Arkana. Tidak ada data internal yang 'dipinjamkan', tidak ada akses ke konsultan ayahmu, dan tidak ada penggunaan fasilitas percetakan kantor."Leo menatapnya, lalu sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. "Jadi, kita akan melakukan ini dengan cara yang sulit? Mengambil data manual dari UMKM di pinggiran kota?""Persis," jawab Almira tegas. "Hanya ada aku, kamu, dan fakta yang kita cari sendiri. Apakah variabel itu bisa kamu terima?"Leo melepaskan jaket riding-nya, menyampirkannya di lengan, dan mengangguk. "Diterima. Tanpa hak istimewa. Hanya dua siswa yang mencoba lulus."Proyek "
Read more