Makan malam berjalan seperti biasa. Kara bercerita panjang lebar tentang teman sekolahnya yang baru dapat adik bayi, tentang gurunya yang lucu, dan betapa ia ingin punya adik laki-laki yang bisa dia ajari main mobil-mobilan.Radit dan Maya mendengarkan, sesekali tersenyum, mengangguk, dan memberi respons yang tepat. Tapi di balik setiap senyum, ada beban yang tak terucapkan.Setelah makan, Kara mandi, lalu mereka bertiga duduk di karpet ruang keluarga lagi. Kara memaksa main "rumah-rumahan" dengan boneka dan mobil-mobilan. Radit jadi ayahnya, Maya jadi ibunya, dan Kara jadi kakak yang super keren. Tawa kecil Kara memenuhi ruangan, tapi Radit merasa setiap tawa itu seperti pengingat yang menyakitkan, betapa rapuhnya kebahagiaan polos ini.Jam delapan lewat, Kara mulai menguap. Maya menggendongnya ke kamar, membacakan cerita pendek tentang kelinci yang mencari teman. Radit berdiri di ambang pintu, memandang istrinya yang duduk di tepi tempat tidur, suaranya lembut dan tenang seolah tida
Last Updated : 2026-05-05 Read more