Apakah aku sudah mati? Kulihat Malik menangis di sampingku. Begitu juga dengan Mama, dia terlihat sedih di samping kananku.Aku pun bangkit, mengedarkan pandangan.“Arin!”Malik memelukku, masih bisa kurasakan, begitu erat.“Syukurlah kamu sudah sadar, Sayang. Please, jangan kayak gini lagi, ya! Aku tidak sanggup melihatnya!” mohon Malik.“Apakah aku belum mati?” tanyaku.Malik mengurai pelukannya, dia menatapku dengan gelengan kepala. Menangkup wajahku, mengusap pipiku dengan lembut.“Kenapa kamu bicara seperti itu? Tidak, jangan bicara sembarangan, ya! Aku tidak suka!” jawabnya.Aku menunduk, ternyata tidak sesuai harapan. Harusnya aku ikut bersama Ayah. Namun, ternyata Tuhan belum mengizinkanku.Mama mendekatiku, hendak merangkul tubuhku. Namun, aku beringsut, tajamnya tatapanku seolah menghunus ke arahnya. Sakit hati, gara-gara Mama, aku tidak bisa mengurus Ayah di akhir hayatnya.“Kenapa?” tanyanya.“Mama tanya kenapa? Hebat sekali, bisa lupa dengan apa yang Mama lakukan pada aya
Terakhir Diperbarui : 2026-02-23 Baca selengkapnya