“Bagaimana para saksi, sah?”“Sah!”“Sah!”Setelah tujuh hari sepeninggal Ibu, Ayah meminta Malik untuk segera menikahiku. Awalnya aku ingin menunda. Namun, Ayah berkata, bahwa dia menginginkan aku memiliki pelindung selain dirinya.Ayah percaya, bahwa Malik bisa melindungiku, menyayangiku, mencintaiku. Malik telah membuktikan ucapannya, di sini, di kediaman Ibu, dia telah mengikrarkan janji suci tanpa syarat. Tanpa ada surat kontrak, tanpa ada embel-embel apa pun. Semua murni karena cinta.“Terima kasih, karena kamu mau menerimaku lagi!” bisik Malik, saat aku mencium punggung tangannya.Tidak ada pesta, tidak ada riasan mewah, tidak ada tamu undangan, hanya keluargaku saja yang menyaksikan bersatunya kami kembali.“Titip Arin, Ayah mempercayakannya padamu. Ayah percaya, kamu tidak akan menyakiti Arin,” ucap Ayah.Mendengar ucapan Ayah, aku menangis. Bukan sedih. Namun, terharu.“Iya, Ayah. Aku janji akan selalu membahagiakannya, selalu ada di sisinya. Ayah jangan khawatir,” sahut Mal
Terakhir Diperbarui : 2026-02-07 Baca selengkapnya