Malam itu, Dirga berdiri di depan cermin, memandangi pantulan dirinya dengan tatapan kosong. Sang Mama, Karina, masuk ke kamar dengan senyum yang dipaksakan."Dirga, sayang, pakai kemeja yang ini ya," katanya sambil menyodorkan kemeja biru muda. "Mama mau kamu terlihat tampan malam ini."Dirga menghela napas. "Ma, aku nggak suka kemeja ini. Terlalu formal."Karina memegang bahu Dirga lembut. "Nak, Mama mohon. Ini penting. Om Bram itu teman baik Papa, dan Clarisa... dia gadis yang baik."Dirga tahu, 'gadis yang baik' itu adalah kode untuk 'calon istri yang potensial'. Ia menggerutu dalam hati, tapi tetap menuruti permintaan Mamanya. Toh, percuma juga membantah."Iya, Ma," jawabnya singkat, lalu meraih kemeja itu dengan malas.Dirga menghela napas, hatinya bergemuruh oleh ketidaknyamanan. Ia tahu betul apa yang akan terjadi dalam makan malam ini. Kedatangan Om Bram, sahabat lama Papanya, selalu membawa aroma rumit, apalagi jika pria itu membawa serta putrinya. Ditambah lagi, kehadiran W
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-07 อ่านเพิ่มเติม