Sementara itu, di sebuah tempat lain, Clarisa duduk di bar mewah dengan gelas wine di tangannya. Wajahnya memancarkan kepuasan yang jahat. Di depannya, Reno duduk dengan wajah murung dan tatapan kosong."Lihatlah dirimu, Reno," ucap Clarisa sinis. "Kau mencintai wanita itu sedari dulu, berkorban untuknya, tapi pada akhirnya? Dia malah menikah dengan kakakmu sendiri. Kau tertawakan, Reno."Reno mengepalkan tangannya di bawah meja. "Sudah, Claris. Jangan bahas itu lagi. Sakit.""Sakit? Tentu saja sakit!" seru Clarisa, mendekatkan wajahnya ke arah Reno. "Tapi kenapa kau harus diam saja? Biarkan mereka bahagia? Kau pikir Delisa bahagia menikah dengan Dirga yang dingin dan kejam itu? Dia dijual, Reno! Dia dikorbankan demi nama baik keluarga!"Clarisa tahu kata-kata itu adalah tombol yang tepat untuk menekan emosi Reno."Dirga tidak mencintainya. Dia menikahi Delisa hanya terpaksa karena Om Winata yang terbaring lemah," lanjut Clarisa dengan nada berbisik penuh racun. "Bayangkan, Delisa hid
Read more