Sejak kejadian mengerikan di tangga rumah itu, sejak ia kehilangan buah hatinya dan juga kehilangan separuh nyawanya, Delisa berubah total. Bukan sekadar perubahan sikap, melainkan sebuah transformasi yang menyedihkan dan menakutkan. Wanita yang dulu lembut, penuh senyum, dan mudah menangis itu, kini lenyap tak berbekas.Kini, yang ada hanyalah sosok yang dingin, kaku, dan tanpa jiwa.Setiap pagi, Delisa bangun tepat pada waktunya. Ia bergerak dengan gerakan yang sangat teratur, rapi, dan efisien, layaknya sebuah mesin yang diprogram sempurna. Ia memasak, membereskan rumah, menyapu, mengepel, dan menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga dengan sempurna. Tidak ada satu pun debu yang tertinggal, tidak ada satu pun piring yang tidak tersusun rapi. Namun, di balik kesempurnaan itu, tidak ada sedikitpun emosi yang terpancar.Wajahnya selalu datar, tanpa ekspresi. Matanya kosong, menatap lurus ke depan tanpa fokus. Ia tidak lagi menatap Dirga, tidak lagi mencari-cari
Read more