Imam Taois Qingfeng menekan kain bersih ke sisi luka, lalu mengangkatnya setelah tiga hitungan napas. Kain itu sudah basah penuh, tetapi darah di tubuh pria itu tetap licin dan terus keluar, bukan seperti luka yang baru terbuka, melainkan seperti sumur kecil yang dipaksa tetap menyala dari dalam. “Namamu,” tanya Imam Taois Qingfeng sambil menahan pergelangan tangannya sedikit lebih kuat. Nada suaranya tetap tenang, tetapi pertanyaan itu jelas bukan basa-basi, melainkan bagian dari pemeriksaan, seperti tabib yang ingin tahu bukan hanya tubuh apa yang sedang ia selamatkan, tetapi juga badai apa yang menempel di punggung pasiennya. Pria itu membuka mata dengan susah payah, lalu berkata, “Liu Zhen.” Lidahnya terasa berat, tetapi masih cukup lurus untuk menyebut nama itu tanpa goyah, dan itu saja sudah memberi tanda bahwa kemauan hidupnya belum hancur. “Faksi?” tanya Imam Taois Qingfeng lag
Read more