Seorang kultivator dari pihak Laut Timur berbisik, "Ia terlambat." Rekannya tidak menjawab, tapi bibirnya menegang karena mereka semua tahu naga itu masih mengerikan, hanya saja pusat persoalannya telah berpindah. Serangan ketiga itu datang dari samping, dan berbeda dari dua sebelumnya, kali ini ada suara yang menyertainya, bukan dari benturan, melainkan dari sisik-sisik besar yang bergesekan satu sama lain saat kepala naga berputar. Suara itu seperti lonceng baja yang dipukul bersamaan dalam jumlah yang tidak bisa dihitung, memenuhi lorong dari lantai ke langit-langit. Seorang prajurit senior menutup kedua telinganya. Di sebelahnya, rekannya sudah berlutut dengan kedua tangan di lantai, kepalanya menunduk, tidak karena sujud melainkan karena tubuhnya tidak bisa lagi memilih posisi lain. "Turun... turun..." gumam seorang murid lain tanpa sadar, seperti kata-kata itu bisa meringankan berat bunyi yang
Baca selengkapnya