Sejak beberapa malam lalu, Rong Tian menyerap kekuatannya sedikit demi sedikit, tidak serakah, tidak meledak, karena ia tahu pusaka primordial tidak bisa dipaksa dengan nafsu yang kasar. Namun malam itu benturannya terasa lebih jelas. Energi Kalung bergerak seperti arus laut dalam, dingin, berat, dan penuh dorongan untuk meluaskan daya hancur. Tiap kali Rong Tian membiarkannya masuk lebih jauh ke nadinya, energi itu seperti ingin membuka ruang yang lebih lebar, ingin merobek batas, ingin memperbesar semua yang disentuhnya sampai tak ada lagi sisa yang utuh. Sementara itu, jalan pedang Rong Tian menuntut hal sebaliknya. Pedang tidak butuh luapan membabi buta. Pedang menuntut garis yang jernih, kehendak yang lurus, dan kendali yang cukup tenang untuk memotong tepat pada titik yang memang harus dipotong. Di sinilah benturan itu lahir. Kalung menginginkan keluasan dan kehancuran. Pedang menuntut kejernih
Mehr lesen