Daisy merasakan tubuhnya terasa dingin, seperti darah di urat-uratnya berubah menjadi es. Namun dia memberanikan diri untuk mengelak, membela dirinya. "Aku tidak berniat melawan Kakak," sahut Daisy dengan suara gemetar sambil menelan ludah. "Dengar, Kak, aku tidak tahu kalau Kakak akan bertunangan dengan Tuan Jade. Saat pesta pertunangan berlangsung, aku sudah bekerja dengannya selama satu minggu." Bianca mengepalkan tangan dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Mata wanita itu menyipit, seakan ingin melumat Daisy hanya dengan tatapannya. "Kita bahas ini di rumah," desis Bianca tajam, membuat Daisy ingin menghilang dari tempat ini. Daisy membuka mulut, berniat menambahkan penjelasan. Namun wajah Bianca sudah berubah kembali menjadi manis dalam sekejap, saat wanita itu melihat pintu restoran terbuka. Senyum ramah kembali mengalir di bibir Bianca, seakan percakapan barusan tidak pernah terjadi.
Terakhir Diperbarui : 2025-12-04 Baca selengkapnya