INICIAR SESIÓNDaisy refleks mundur selangkah. Dia sangat tahu apa yang biasanya terjadi setelah nada seperti itu keluar dari bibir Bianca.
Plak! Benar saja, saat Daisy hendak merespons, tangan Bianca tiba-tiba terangkat dan menampar pipinya dengan keras. "Aw!" jerit Daisy tersentak, kepalanya menoleh ke samping karena kekuatan tamparan Bianca. Pipi Daisy langsung memanas, dan rasanya seperti terbakar. Telinga gadis itu mendengu"Aku bahkan bisa membuatmu mendapatkan apa yang akan kamu tuntut darinya." Jade menarik Daisy ke dalam pelukannya pelan. Pria itu meletakkan salah satu tangannya di punggung Daisy, satu lagi di kepala gadis itu, mendekatkan istrinya ke dadanya sampai Daisy bisa merasakan detak jantung yang teratur di balik kemeja Jade. "Serahkan padaku, Sayang,” lanjut Jade. Daisy menutup matanya. Dia memeluk Jade erat. Jade menepati janjinya. Tidak ada yang benar-benar tahu persis bagaimana caranya. Beberapa orang yang mencoba memahami proses itu dari luar hanya bisa menyimpulkan bahwa kekuasaan Keluarga Draxus memang bukan sesuatu yang bisa dicapai oleh semua orang, dan bahwa ada hal-hal yang bergerak lebih cepat ketika nama yang tepat disebut di ruangan yang tepat. Satu kali sidang. Hakim membacakan putusannya. Leo dihukum 25 tahun penjara dan denda ganti rugi 25 miliar rupiah. Daisy menangis lega saat mendengar itu. Bukan karena mendengar berapa lama Leo dipenjara dan berapa
Ada dua kursi di sudut belakang anjungan. Daisy dan Peter mengobrol di sana. Jaraknya beberapa meter dari posisi Jade, tetapi pria itu tidak akan mendengar dengan jelas dari sini. Beberapa detik berlalu tanpa kata-kata. Angin masuk dari celah jendela yang tidak tertutup rapat, membawa aroma laut yang asin dan sedikit basah. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Daisy yang membuka suara duluan. Daisy menoleh ke Peter. "Atau sekarang … aku harus mulai memanggilmu Kak Peter?" Peter menoleh ke arahnya. Mata pria itu membulat. "Kau tidak merasa canggung padaku?" tanya Peter. Daisy menggeleng. "Sejak awal mengenalmu, kamu memang seperti sosok kakak untukku." Daisy berhenti sebentar, menggigit bibir, memilih kata berikutnya dengan hati-hati. "Maka dari itu …." "Kau tidak bisa menganggapku lebih dari itu." Peter yang menyelesaikan kalimat Daisy. "Ya." Daisy mengangguk. Peter menghela napas panjang. Dia menumpu tangannya di lutut, sementara matanya menatap lantai anjungan bebe
Peter mengencangkan tali yang mengikat tubuh Leo dengan kursi. Pria itu tidak berkata apa-apa, meski tangannya tidak berhenti gemetar. Begitu Peter selesai dan berdiri tegak, tatapan ayah dan anak itu bertemu. "Ayah harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan Ayah," ucap Peter tegas. Kekecewaan yang begitu besar, membuat Peter tidak bisa merasakan apa-apa lagi saat melihat wajah ayahnya. Leo yang sudah terluka di rahang dan sudut bibir karena dipukul Peter, tidak melawan. Dia membiarkan putranya mengikat dirinya di kursi. Jika harus adu fisik, Leo sadar dia akan kalah. Namun Leo masih bisa mengucapkan sesuatu untuk memengaruhi Peter. Leo menatap putranya beberapa detik. "Perbuatan Ayah yang mana?" tanya Leo sambil mengangkat kedu alis. Peter terdiam. "Yang barusan terjadi di toilet?" Leo melanjutkan. "Dia berhasil pergi sebelum Ayah sempat melakukan sesuatu. Dan di kapal in
"Siapa yang berhasil meniduri Lara, akan mendapatkan sejumlah uang." Leo mengucapkannya seperti sedang menceritakan pertandingan kartu biasa. "Dan saya menang." Leo menyandarkan punggungnya lebih jauh ke kursi. "Saya berhasil. Uang itu kemudian saya gunakan untuk membeli tanah kosong di Arvera, yang kini sudah menjadi kebun jeruk." Brak! Peter berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser mundur. "Brengsek!" maki Peter. Peter melangkah menjauh, membelakangi Leo dengan napas memberat. Pria itu tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Leo adalah seorang brengsek, tetapi juga tidak bisa berhenti mendengarkan. Martha menatap punggung sepupunya itu sebentar sebelum mengalihkan pandangan kembali ke Leo dengan tajam. Daisy menggigit bibir, perasaannya mendadak menjadi tidak enak. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah.
Area dalam kapal yang tadinya berfungsi menjadi ruang makan, berubah menjadi ruang sidang. Ruangan dengan jendela besar yang memperlihatkan laut di luar, semuanya dirancang untuk membuat orang merasa nyaman. Namun kenyamanan itu sudah lama pergi begitu Leo duduk di kursi yang berhadapan dengan empat orang yang menatapnya dengan perasaan masing-masing. Leo bersandar di kursinya. Pria itu menyilangkan tangan di depan dada. "Apa yang ingin kalian dengar dari saya?" tanyanya santai. "Apa yang Ayah lakukan di dalam bilik bersama seorang staf wanita?!" Peter yang pertama membuka mulut. Leo menoleh ke arah putranya dengan raut wajah tanpa penyesalan. "Kau sudah dewasa." Satu alis Leo terangkat. "Apa perlu Ayah jelaskan?" Sesuatu di wajah Peter berubah. Peter yang terlihat begitu kecewa menggebrak meja. Brak! Martha terentak di tempatnya. Sementara Daisy mengeratkan genggaman pada l
"Jangan seperti ini! Saya punya keluarga dan sudah menikah!" Sebelum jari Daisy sempat menyentuh pintu bilik itu, suara perempuan meledak, terdengar gemetar. Daisy tidak lagi ragu. Dia segera mendorong pintu bilik itu dengan kuat hingga terbuka sepenuhnya. Brak! Dua orang yang ada di balik bilik itu tersentak. Seorang wanita berseragam staf kapal berdiri dengan baju bagian atas yang sudah robek di sisi kanan. Air mata membasahi pipinya. Mata wanita itu merah. Namun begitu melihat Daisy di ambang pintu, ada sedikit kelegaan dalam tatapannya. Di sudut bilik yang sama, pria yang berada di sana berbalik menghadap Daisy. Jantung Daisy seperti berhenti. Wanita berseragam itu bergerak lebih dulu. Dia mendekat ke arah Daisy, lalu membungkuk dalam. "Ny-nyonya Daisy, maaf Anda harus melihat ini dan bulan madu Anda jadi terganggu," ucapnya berusaha tetap bersikap profesional, meski suaranya geme
Napas Daisy memburu pelan. Jari-jarinya meremas ujung rok tanpa suara.‘Bertemu Vincent?!’ Pikiran Daisy langsung mengarah pada satu hal yang jauh lebih menyeramkan daripada amarah Jade. ‘Bagaimana jika Tuan Jade tahu bahwa aku akan menikah dengan rival bisnisnya?’Daisy menelan
Kata-kata itu terdengar manis. Namun entah mengapa, di telinga Daisy, kata-kata itu terdengar sangat berbeda dengan saat Jade mengatakannya.Saat Jade mengatakan cinta, Daisy merasakan kehangatan, meski dia menolaknya. Namun saat Vincent mengatakan cinta, yang Daisy rasakan hanyalah ding
Daisy mendorong pintu kamarnya dan berhenti tepat di ambang.Gadis itu sedikit terkejut kala melihat kamar yang biasa dia tempati sudah didekorasi ulang. Penuh dengan furnitur baru dan didominasi dengan warna putih yang minimalis.Tempat tidur dengan sprei linen putih, meja rias
“Lembur?” July mengulang pelan. “Dengan Tuan Jade?”Gea menatap Daisy lurus tanpa berkedip.Daisy langsung menyesal begitu kalimat itu lolos dari mulutnya. Tidak ada kewajiban baginya untuk memberitahu hal tersebut, apalagi setelah semua kesalahpahaman yang baru dipulihkan.







