Sirene ambulans melolong panjang, memecah sore yang terasa terlalu sempit bagi napas Daisy.Gadis itu duduk di sisi brankar, jemarinya menggenggam tangan Arthur yang dingin dan tidak bergerak.Setiap getaran mobil membuat tubuh pria tua itu sedikit terguncang, dan setiap kali itu terjadi, jantung Daisy ikut bergetar tidak karuan.“Eyang …” bisik Daisy parau, air matanya menetes. “Eyang harus sembuh. Tolong … Eyang tidak boleh meninggalkan aku sendirian.”Daisy tahu tidak akan ada jawaban dari Arthur. Namun berbicara seperti itu, membuat Daisy merasa bahwa Arthur mendengarkannya.Monitor di samping brankar berbunyi teratur, meski angkanya membuat dahi perawat berkerut.Dua orang perawat bergerak cekatan, memasang alat bantu napas, mengecek tekanan darah, menyebutkan angka-angka medis yang tidak dipahami Daisy, tetapi membuat rasa takut gadis itu semakin pekat.“Tekanannya sedikit turun. Tambah oksigen,” ujar salah satu pe
Read more