Hingga suatu sore, saat membersihkan laci meja tulis Ratma yang tua, Ayu menemukan sebuah amplop cokelat tersegel rapi.Tulisan di depannya rapi, ditulis dengan tinta biru dan huruf yang masih tegak meski keriput: “Untuk keluargaku. Buka saat kalian sudah siap menerima bahwa aku benar-benar pergi, dan bahwa semuanya baik-baik saja.”Getar di tangan Ayu merambat ke seluruh tubuhnya. Ia memanggil semua orang, Bima, Dion yang baru pulang kerja, Alika dan Kania yang kebetulan sedang berkunjung.Mereka duduk melingkar di ruang keluarga, dengan amplop itu di atas meja kayu, seperti sebuah relikui suci.“Kita buka bersama?” tanya Bima, suaranya serak. Semua mengangguk. Dengan hati-hati, Dion menyobek segelnya.Isinya bukan tentang pembagian harta, surat wasiat resmi, atau daftar barang warisan. Hanya selembar kertas garis bergantung, berisi tulisan tangan Ratma yang khas.“Anak-anakku, cucu-cucuku, cicit-cicitku yang cantik dan ganteng,” demikian ia memulai.“Kalau kalian baca ini, berarti a
Last Updated : 2025-12-25 Read more