“Ya ampun, banyak sekali darahnya!”Laura tersentak sewaktu pria itu memeriksa lengannya, dan darah yang memancar dari sana dalam jumlah yang tak sedikit.Cairan merah pekat itu mulai merembes, menodai kain kemeja putih Adelio.Adelio mengerang lirih begitu memastikan luka tersebut.Pantas saja dia merasa sedikit ganjil dengan tangannya panas, perih, dan basah. Sebenarnya tatkala dia membereskan dua preman tadi, matanya sempat menangkap benda kecil berkilat yang diambil salah satu preman dari pinggangnya.Dan, tahu-tahu, lengannya seperti tersayat oleh benda tajam setara pisau.Menyadari Laura hendak ikut memeriksanya dengan raut wajah yang nyaris menangis, Adelio segera menutupi lukanya dengan tangan lain.“Ini tidak apa-apa. Hanya goresan kecil. Sekarang pulanglah, keburu malam,” tukasnya tegas, lantas mulai menyeret kakinya menuju mobil hitamnya.“Sebentar, Pak! Itu harus diobati dulu! Anda bisa inf
Terakhir Diperbarui : 2026-03-20 Baca selengkapnya