“Laura! Laura!”Karena tak ada sahutan apa pun sejak di kamar tadi, rasa cemas yang tak beralasan mulai merayap di dada Adelio.Dia sudah memeriksa kamar mandi, kosong. Lalu keluar dari kamar, memanggil nama gadis itu dengan nada yang mulai tidak sabar.Namun, tetap saja. Apartemen itu hening layaknya kuburan.Tak ada siapa-siapa seperti sebelum Laura menginjakkan kaki di sini.Keheningan itu mendadak terasa mencekik, jauh lebih dingin daripada sikap yang biasa Adelio tunjukkan.“Astaga! Di mana kamu, Laura?!” Dia menggeram, jemarinya menyisir rambut dengan kasar.Adelio kembali ke kamar dengan langkah lebar, menyambar kontak mobil di atas meja, dan buru-buru pergi keluar.Beberapa kali pikirannya tersengat oleh mimpinya barusan, tentang Laras yang berubah menjadi Laura di ujung labirin.Apa arti semuanya? Dia sungguh merasa frustasi.Mobil mewah itu lantas melesat cepat. Rodanya mencicit di atas aspal saat berderum meninggalkan area apartemennya.***Sementara itu, di sebuah tempat y
Terakhir Diperbarui : 2026-04-02 Baca selengkapnya