Mata Adelio menajam, seolah berubah menjadi belati dingin yang berkilat di kegelapan kamar yang hanya disinari sisa bara perapian.Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.“Ya, aku akan ke sana. Pantau terus titik penetrasinya, jangan biarkan satu bita pun data bocor,” tukas Adelio dingin, suaranya rendah namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.Dia mematikan ponselnya dengan gerakan cepat.Pria matang itu lantas menoleh ke samping, menatap Laura yang masih terlelap dengan napas teratur.Wajah gadis itu tampak begitu polos, sisa-sisa pergumulan panas mereka beberapa jam lalu masih tercermin dari rona merah di pipinya yang tertidur.Adelio merasa berat hati, namun dia tak punya pilihan.Jika sistemnya lumpuh, dia juga tidak akan punya kekuatan untuk melindungi Laura di masa depan.Adelio kemudian bergegas mengenakan pakaiannya. Gerakannya cepat dan tanpa suara. Sebelum benar-benar me
Terakhir Diperbarui : 2026-04-07 Baca selengkapnya