Malam mulai merayap naik, menggantikan semburat jingga dengan kegelapan yang pekat di luar gedung. Di dalam kantor, satu per satu rekan kerja Zelena mulai berpamitan, termasuk Yuri yang sempat memberikan semangat terakhir sebelum menghilang di balik pintu lift. Kini, hanya tersisa Zelena dan Nayaka di ruangan luas itu. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Sepuluh menit kemudian Nayaka menghampiri Zelena dengan raut penuh penyesalan. “Zel, aku benar-benar minta maaf. Tadinya aku mau nemenin kamu lembur sampai selesai, tapi barusan Mama telepon, Papa drop lagi dan harus segera dibawa ke rumah sakit.” Zelena mendongak, matanya memancarkan empati yang tulus. “Ya ampun, Ka, nggak usah dipikirin. Kamu pulang aja sekarang. Titip salam buat Papa ya, semoga nggak ada yang serius.” “Tapi kamu sendirian di sini.” “Aku nggak apa-apa, Ka. Ada satpam di bawah. Tenang aja. Lagian, kalau kamu di sini pun kamu nggak bisa bantu potong akrilik, kan?” canda Zelena mencoba mencairkan suasana
Última actualización : 2026-02-02 Leer más