Handphone yang sejak tadi berada di tangan Jeandra kini berbunyi. Dengan cepat ia menjawab. “Ya, Pa?” “Je, ke sini. Bawa Zelena.” “Siap, Pa.” Jantung Zelena yang sejak tadi tidak bisa ditenangkan menjadi tidak karuan. Terlebih setelah mendengar suaminya mengucapkan, “Sekarang waktunya, Sayang.” “Je, aku nervous.” “Sini, genggam tanganku yang erat,” ujar Jeandra sembari menautkan jemarinya di sela jemari Zelena. Ia bisa merasakan telapak tangan istrinya yang dingin dan sedikit gemetar. Jeandra membawa Zelena melangkah menuju ruangan Liam dan Aristhama berada. Semakin mendekati kamar tersebut, irama jantung Zelena semakin sulit dikendalikan. Perutnya ikut tegang, seakan anaknya juga merasakan perasaan ibunya. Pintu pun terbuka, menampakkan sosok Liam yang berdiri di dekat meja, dan seorang pria paruh baya yang membelakangi mereka, menatap ke arah jendela besar. “Pak Aris, itu Zelena dan Jeandra,” ucap Liam memberitahu kedatangan keduanya. Aristhama Adiwangsa perlaha
Magbasa pa