"Ternyata kalian bisa menangis juga, ya?" ucap Amira, mencoba mencairkan suasana yang sempat membeku."Siapa yang menangis? Aku cuma kelilipan," kilah Arsya cepat, lalu menegakkan tubuhnya seolah tak terjadi apa-apa.Amira menahan senyum. Ia lalu melirik ke arah kursi depan."Sekretaris Ken, kamu juga kelilipan?" tanyanya, nada suaranya sengaja dibuat polos."Benar, Nona," jawab Ken singkat.Jawaban itu membuat Amira tak kuasa menahan tawanya. Ia menggeleng pelan, menatap kedua laki-laki itu dengan tatapan geli."Bahkan kelilipan saja kalian bisa kompak begitu, ya?" ujarnya, terkekeh kecil.Namun tawanya perlahan mereda. Sorot matanya berubah lebih dalam, lebih sendu."Apa kalian lupa?" lanjut Amira pelan. "Aku juga punya ayah yang sudah meninggal."Ucapan itu membuat Arsya dan Ken terhenyak. Keduanya terdiam, seolah baru tersadar akan hal yang selama ini luput dari perhatian mereka."Mungkin karena sikap mendiang ayahku yang buruk," sambung Amira, menatap lurus ke depan, "aku jadi bi
Read more