“Aiden, kakak nanti mau bicara penting sama kamu,” ucap Amira tiba-tiba, suaranya terdengar tenang, tetapi ada sesuatu yang berat terselip di dalamnya.Deg!Aiden yang sedari tadi hanya duduk diam di sudut ruangan, langsung menegang. Wajahnya mendadak pias, seolah sudah tahu arah pembicaraan yang akan datang. Tangannya perlahan meremas jari-jemarinya sendiri, mencoba menahan gelisah yang mulai merambat.“Iya, Kak,” jawabnya pelan, nyaris seperti bisikan.Di tengah keramaian ruang tengah yang mulai mereda, Amira kembali menggigit bibir bawahnya. Tatapannya kosong sesaat, sebelum tiba-tiba ia meringis kecil. Tangannya refleks berpindah ke perutnya yang mulai terasa nyeri.Entah itu hanya tendangan kecil dari dalam kandungannya … atau sesuatu yang lain.Waktu terus berjalan. Suara tawa dan percakapan yang tadi memenuhi rumah perlahan menghilang, berganti dengan langkah kaki para tamu yang satu per satu berpamitan. Acara di halaman rumah Arsya akhirnya selesai, meninggalkan suasana yang j
Read more