“Jadi, siapa yang sakit?” tanya Virgo dengan nada tajam, kedua alisnya terangkat tinggi.“Tidak ada,” jawab Arsya tanpa sedikit pun merasa bersalah. Ia bahkan terlihat santai, bersandar di kursinya seolah tidak terjadi apa-apa.Virgo memandang Arsya, lalu mengalihkan tatapannya ke Ken. Sorot matanya penuh kekesalan yang tak disembunyikan sama sekali.“Arsya, kamu kira aku tidak punya pekerjaan, hah?!” pekiknya, tangannya mengepal dan terangkat di udara, seolah ingin melempar sesuatu.“Iya,” sahut Arsya singkat, datar, dan tanpa ekspresi.“Benar-benar kau ini ...” gumam Virgo frustasi. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, menyandarkan kepala, lalu menghembuskan napas panjang. “Kau juga, Ken. Kenapa menurut saja?!” lanjutnya, kini melampiaskan amarah pada sekretaris setia itu.Ken hanya berdiri tegak, wajahnya tetap tenang seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda ia merasa bersalah.Setelah emosinya sedikit mereda, Virgo kembali menatap Arsya. Kali ini lebih serius. Matanya menyapu wajah pria i
Read more