Sementara itu, di kantor pusat, tepatnya di ruangan Arsya.Arsya duduk bersandar di kursi kerjanya yang besar, satu tangannya mengetuk pelan meja kayu di depannya. Wajahnya tampak lebih santai dari biasanya, bahkan ada sedikit senyum yang terselip tanpa ia sadari."Ken, sepertinya Mira senang sekali ya waktu aku meneleponnya tadi," ucap Arsya dengan nada ringan, seolah menyampaikan hal yang sangat wajar.Ken yang berdiri tak jauh dari meja hanya melirik sekilas, ekspresinya datar, tetapi isi kepalanya jelas tidak sejalan dengan ucapan atasannya."Bukan Nona muda yang senang, tapi Anda sendiri yang senang, Tuan. Bisa-bisanya membalikkan fakta semudah itu," batin Ken.Arsya menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada sedikit lebih serius, meski masih terdengar santai."Ken, kalau nanti kamu sudah menikah, jangan sampai kamu terlihat terlalu menggilai pasanganmu. Bisa-bisa harga dirimu jatuh berkeping-keping."Ken mengangkat alisnya tipis, lalu tanpa pikir panjang menjawab, "Buka
Magbasa pa