Setelah membaca pesan dari Arsya, Ken perlahan menghela napas, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Ekspresinya kembali datar, seperti biasa—tenang, tanpa emosi yang mudah terbaca.Ia melangkah mendekat ke arah Riana.“Nyonya, saya pamit pulang,” ucap Ken sopan, sedikit menundukkan kepala. Namun, sebelum berbalik, matanya sempat melirik ke arah Sisil.Sisil yang menyadari itu langsung berdiri dari duduknya, seolah sudah menunggu isyarat tersebut sejak tadi.“Aku juga pamit, Tante,” ucapnya lembut kepada Riana.Sebelum benar-benar pergi, Sisil menghampiri ranjang bayi kecil itu. Ia tersenyum gemas, lalu menunduk dan menciumi pipi Ryu berulang kali.“Lucu banget sih kamu ...” gumamnya pelan.Ryu yang semula terlelap, kini menggeliat kecil. Wajah mungilnya bergerak ke kanan dan ke kiri, bibirnya sedikit mengerucut, seperti mencari sesuatu.Melihat itu, Sisil tertawa kecil. “Aduh, maaf ya ... Tante ganggu tidurmu.”Ken hanya berdiri memperhatikan dari kejauhan. Tatapann
Read more