Tanpa menunggu lama, Ken melangkah keluar dari butik, lalu berjalan beriringan dengan Sisil menuju area parkir. Sementara itu, Angkasa membuntuti langkah keduanya dari belakang. Laki-laki itu tampaknya memang berniat mengantar mereka sampai ke teras butik.Begitu Ken membuka pintu mobil untuk Sisil, Angkasa tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan, Tuan Ken.”Ken hanya menganggukkan kepalanya singkat sebelum masuk ke kursi kemudi. Mesin mobil segera menyala halus, lalu kendaraan mewah itu perlahan meninggalkan area butik.Saat mobil bergerak keluar, Ken sempat menekan klakson pelan sebagai tanda berpamitan. Angkasa yang masih berdiri di teras butik membalas dengan lambaian tangan hormat.Sisil melirik ke arah belakang melalui kaca spion samping.“Oh, ternyata dia masih punya hati,” gumamnya pelan.“Apa?” tanya Ken sekilas.“Bukan apa-apa.”Ken tidak menanggapi lagi. Kedua tangannya fokus menggenggam setir sambil menatap lurus ke jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore.Beberapa menit
Read more