“Sudah berapa bulan, sekarang?”Sienna menggaruk pangkal lehernya. ‘Bisa kita enggak bahas itu?’ melengos, batinnya. Dipaksa senyum kikuk terpancar, demi memuaskan sang ibu. Kontras dengan besarnya enggan melekat di ulu hati.“Masuk trimeter kedua, kayaknya, Bu. Enggak paham. Dokter yang kemarin bilang,” balasnya, seadanya. Terkekeh Dewi muncul lagi. Wanita itu pura-pura tenang—aslinya, menahan tawa—gadisnya yang sebentar lagi menjadi Ibu, namun tetap clueless seperti biasa.“Trimester, sayang,” tanggapinya, menahan senyum. “Jadi, sudah jalan trimester kedua? Ibu mau tanya, kalau Sienna enggak keberatan.”“Enggak keberatan.” Sienna langsung menjawab. Iris berkilat serius. Kendati perkataan sang Ibu belum diselesaikan. “Ibu boleh tanya apapun ke Sienna. Minta apapun, pun, boleh. Jangan berpikir sungkan.”Genggaman tangan Dewi makin melek
Read more