Julius menutup separuh wajah pucatnya dengan punggung tangan. ‘Fuck. What did you do to this boy? Fucking chris,’ batinnya memburu. Pemuda bertindik itu mengusap punggung lehernya—kikuk bukan main. “Err, Christ ada di dalam, kan? Kau mau masuk? Atau pulang?” tanyanya. Berbasa-basi. Pandangan Jonathan terbuang pada pekarangan taman yang basah terguyur hujan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, dingin, tanpa minat menjawab. “Pulang,” balasnya, singkat. Lawan bicaranya ditinggal untuk memikirkan alur percakapan sendiri. Julius kembali berdeham. “Oh, begitu,” sahutnya, hilang kata-kata. Kikuk mendadak menyerang tengkuknya. “Kalau gitu, gue—aku masuk duluan. Kau bawa mobil, Jo?” Coat panjangnya dilepas setengah jalan. Setelah masuk ke dalam mansion, udara terasa pengap. Berbeda dengan kondisi di luar yang terus menumpahkan badai hujan. Julius mengamati pekarangan di hadapannya yang hampir tak berbentuk. Lalu, mengamati sosok sauda
Read more