Share

Chapter 80

last update publish date: 2026-04-08 11:00:32

We can do our wedding in any place—sekonyong-konyong, bagai rem, sebagaimana sebuah kalimat berbandul beban sangat berat, mengalahkan kecepatan gesek ayun kemudi.

Tolehnya terporos penuh, tumpah ruah pada pemuda di sisi kiri ayunan. Minus dari ketenangan, tak hadir satupun nada bercanda pada lapisan ekspresinya. Duduk tenang sesekali condong ke arah depan—Samuel, sorot matanya lurus tanpa arah lain, selain pada Sienna.

Terlalu ser

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 80

    We can do our wedding in any place—sekonyong-konyong, bagai rem, sebagaimana sebuah kalimat berbandul beban sangat berat, mengalahkan kecepatan gesek ayun kemudi.Tolehnya terporos penuh, tumpah ruah pada pemuda di sisi kiri ayunan. Minus dari ketenangan, tak hadir satupun nada bercanda pada lapisan ekspresinya. Duduk tenang sesekali condong ke arah depan—Samuel, sorot matanya lurus tanpa arah lain, selain pada Sienna.Terlalu serius cara pemuda itu mendiamkan akhir pertanyaan, sulit untuk Sienna menyangkalnya. Di atas ayunan yang masih mengayun, tubuh Sienna menengang. Jari-jemarinya menggulung tiap serat kail ayunan tanpa menyadar. Mencengkram, namun pikiran melolos entah kemana.Anywhere.Sienna bingung, bagaimana mudahnya pemuda itu berucap?Bisa jadi, sosok musuh—dirinya sendiri—memanfaatkan kesempatan, memilih tempat paling

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 79

    ‘Tempat nikah? In this fucking situation? Can’t we just pick random places to begin with? It’s not like we’re loving each other.’ Sienna menggerutu. Kekesalannya dilimpahkan pada kulit kepala. Cekung di celah kedua alis gadis itu makin melebar, berkerut, bergelombang oleh kejengkelan. Jemari kurusnya memanjat pelipis, memijit sisi kanan kepalanya yang mendadak berdenyut.Semenjak tinggal di mansion ini—apa Sienna merasa tenang? In the hell. Kontras, gadis itu tak pernah tak mendapat mimpi buruk. Anemianya kambuh parah, migraine terasa tak ada habisnya. Lebih parah lagi, wanita hamil dilarang mengonsumsi obat—Dokter Kishibe bilang.‘Terus? Mau dibiarkan sakit kepala sampai mati, gitu?’ geram isi kepalanya. Sienna menunduk sebentar, sandal rumahnya bergesek pada lantai batuan teras dengan gerak berulang. Gadis itu menguji kesabarannya sendiri. Ia

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 78

    Satu gelas terguling.Airnya tumpah berceceran. Merambat cepat ke penjuru meja, menetes hingga membasahi lantai. Beberapa potongan jamur yang Dewi siapkan ikut terpental keluar. Samuel dan Dewi Halim sama-sama terdiam. Keduanya saling tersentak, suara gebrakan tadi begitu kencang hingga meyedot segala kehangatan yang ada.Mata Dewi Halim membulat, sumpitnya terhenti di udara. Samuel bereaksi lebih cepat. Segera Ia panggil beberapa pelayan untuk membersihkan serpih-serpihan keramik pecah. Pemuda itu sedikit menegang di kursinya, namun tetap berusaha tenang. Ekspresinya tak panik saat sarapan mereka menjadi ajang perpecahan. Satu-satunya yang panik di ruang makan itu, adalah——Sienna sendiri.Tangan bersarung putih menggeser tubuhnya—pelayan, membantu Sienna menjauh dari serpihan keramik yang hampir mengenai kakinya. Napas gadis itu sedikit tersengal, pandangannya turun pada dua tangan tersangka utama kekacauan. Seakan baru menyadari apa y

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 77

    “Sudah berapa bulan, sekarang?”Sienna menggaruk pangkal lehernya. ‘Bisa kita enggak bahas itu?’ melengos, batinnya. Dipaksa senyum kikuk terpancar, demi memuaskan sang ibu. Kontras dengan besarnya enggan melekat di ulu hati.“Masuk trimeter kedua, kayaknya, Bu. Enggak paham. Dokter yang kemarin bilang,” balasnya, seadanya. Terkekeh Dewi muncul lagi. Wanita itu pura-pura tenang—aslinya, menahan tawa—gadisnya yang sebentar lagi menjadi Ibu, namun tetap clueless seperti biasa.“Trimester, sayang,” tanggapinya, menahan senyum. “Jadi, sudah jalan trimester kedua? Ibu mau tanya, kalau Sienna enggak keberatan.”“Enggak keberatan.” Sienna langsung menjawab. Iris berkilat serius. Kendati perkataan sang Ibu belum diselesaikan. “Ibu boleh tanya apapun ke Sienna. Minta apapun, pun, boleh. Jangan berpikir sungkan.”Genggaman tangan Dewi makin melek

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 76

    Pendar dari baskara pagi membelah lautan ruang menjadi dua; terang keemasan, hitam melekat. Terbagi ganda dwiwarna. Menyelip, seonggok daging hidup. Binarnya juga membagi wajah Sienna menjadi dua; sisi positifnya terpendam, gelap sisi lain terangkat.Bianglala bagai dalam simulasi kepalanya. Berputar terus kemudi roda itu—kalimat yang ditinggal Samuel. ‘Apa KAMU mau menikah dengan aku, atau enggak?’ —sialan. Keparat bangsat seribu kali lipat. Sienna urungkan menghantam wajah pemuda tadi dengan sendal. Berlari masuk ke dalam kamar, meringkuk, separuhnya merasa kalah.Separuh lagi, merasa bersalah.Bukan dari hidung, Sienna lepaskan hembus napas paling berat lewat mulut. Rahangnya yang sedari tadi mengatup, kini terbuka tegang. Asal mengambil raihan tangannya ke sisi kiri—vas bunga ukuran sedang ditarik. Sienna lempar benda keramik itu hingga meledak pecah.Sekali, dua kali. Belum ada

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 75

    —like an animal.Percakapan saling sahut mengitari utensils keramik beradu-adu. Ritmenya pecah. Jejeran pelayan silih berganti menempatkan gelas-gelas kristal, LimoncelloBeverage. 70 tahun sebelum jatuhnya Berlin, warga-warga pengungsi menempatkan vodka sebagai racun tambahan. Pahit yang dihasilkan, mereka sebut sebagai resistance. Pahit yang tidak bisa tersubsidikan sebatas kucuran teh hangat dan almond biscuit.Di tengah kepahitan—Sienna tidak berbicara tentang vodka beverages—Ia duduk.Hiburannya sesempit karpet Persia. Disinyalir, bulunya diambil dari kulit singa. Telapak kaki polos Sienna menggantung, pada lampisan bulu-bulu menggelitik. Geli? Tidak. Jijik. Sebab bulu karpetnya? Bukan. Akan tetapi, suara ayahnya.Sepuluh inci dari Sienna mendaratkan duduk bosan, Henri terus tergelak tawa.Sienna mengendurkan matanya—sedikit, demi menahan rasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status