"Mari masuklah ke kediaman kami," ujar Eldrin dengan suara datar, nyaris tanpa ekspresi. Dean, yang masih meringis kesakitan, hanya bisa menatap tajam makhluk bertelinga runcing itu dengan penuh kekesalan. Bekas lilitan di kakinya masih terasa perih, meninggalkan bekas kemerahan yang menyengat. Kain celananya pun rusak, robek dan melepuh di bagian pergelangan kaki, menandakan betapa kuatnya cengkeraman yang baru saja ia alami. Dengan nada sinis, ia mendengus, "Kau pikir aku bisa jalan ke kediamanmu dalam kondisi begini?" Ucapan itu langsung membuat Raven menoleh tajam. Wajahnya mengeras, dan tanpa ragu ia membentak, "DEAN! Jaga ucapanmu!" Namun, seperti biasa, Dean tak menggubrisnya. Baginya, manusia tetaplah lebih sempurna dibandingkan makhluk lain. Ia tidak suka tunduk atau menerima perlakuan sewenang-wenang, terutama dari bangsa yang bukan manusia. Eldrin, yang sejak tadi menatapnya dengan ekspresi tak ter
Read more