تسجيل الدخولDean dengan hati-hati membaringkan gadis kecil itu di ranjang kayu sederhana miliknya. Tubuh mungilnya tampak lemah, napasnya terengah-engah meski matanya masih tertutup. Keringat yang tadi membasahi dahinya mulai mengering, meninggalkan jejak kelelahan di wajahnya yang pucat.
Raven berdiri di samping Dean, menatap gadis itu dengan ekspresi iba. Ia menggigit bibirnya, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.“Dilihat dari pakaiannya …,” gumam Raven pelan, matanya menyusuri kMalam telah menyelimuti Dawnshire ketika Dean bergabung dengan kelompok pemburu untuk pertama kalinya.Mereka bergerak menyusuri jalan-jalan kecil di pinggiran kota, menghindari jalan utama yang masih dilalui beberapa pedagang malam. Garrick berjalan paling depan bersama Darius, sementara Dean berada beberapa langkah di belakang mereka.“Jangan terlalu jauh dari kelompok,” bisik Garrick.Dean mengangguk. Tangannya sesekali menyentuh gagang belati elf di balik pakaiannya.Mereka telah berpatroli hampir satu jam tanpa menemukan sesuatu yang mencurigakan. Hanya suara serangga malam dan dedaunan yang bergesekan tertiup angin menemani perjalanan mereka.Ketika melewati sebuah taman kecil di antara deretan rumah, Darius tiba-tiba mengangkat tangan.Semua orang berhenti.“Ada seseorang di sana,” bisiknya.Garrick mengikuti arah pandangannya. Di bawah pohon besar dekat bangku taman, terlihat sepasang manusia sedang dudu
Langit Dawnshire mulai menggelap ketika Dean akhirnya bangkit dari tepi jalan. Belati elf masih berada dalam genggamannya. Ia memasukkannya ke balik pakaian, lalu berjalan menyusuri jalan utama menuju penginapan.Namun, pikirannya belum juga tenang.Ia sudah memeriksa beberapa tempat di kota, tetapi Rohana seolah menghilang begitu saja. Tidak ada yang melihatnya, tidak ada yang mengetahui ke mana ia pergi.“Kalau sampai kau melakukan sesuatu yang berbahaya sendirian, aku benar-benar akan mengomelimu,” gumamnya.Dean melewati sebuah gang sempit yang menghubungkan kawasan pasar dengan deretan bangunan tua. Langkahnya melambat ketika mendengar suara percakapan dari sebuah kedai kecil.“Dua orang lagi ditemukan mati di pinggiran kota. Tubuh mereka hampir tidak menyisakan darah.”“Vampir lagi?”“Siapa lagi? Para penjaga hanya menyebutnya sebagai serangan binatang buas. Seolah-olah kita semua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Dean berhenti.Ia menoleh ke arah kedai. Beberapa pria dud
Dean membawa setumpuk pakaian bersih menaiki tangga menuju loteng. Beberapa hari terakhir, Rohana terlalu sibuk hingga kamar tidurnya mulai berantakan. Pakaian menumpuk di kursi, buku-buku tergeletak di meja, dan selimutnya bahkan belum dilipat.“Perempuan itu benar-benar tidak punya waktu untuk membereskan kamarnya,” gumam Dean.Ia meletakkan pakaian di atas kursi, kemudian mulai merapikan meja. Sebuah buku catatan terbuka di sana, tetapi Dean tidak berniat membacanya. Ia hanya menggesernya agar tidak terkena debu.Setelah itu, ia menghampiri tempat tidur.Dean menarik selimut yang kusut, merapikan seprai, lalu mengangkat bantal untuk menepuk-nepuknya.Sesuatu terasa keras di bawah bantal kedua.Ia mengerutkan kening.“Apa ini?”Dean mengangkat bantal tersebut.Seketika tangannya terhenti.Sebuah belati elf tergeletak di atas kasur, tersembunyi di balik lipatan bantal.Dean mengenali
Perpustakaan istana selalu menjadi tempat yang paling tenang dibandingkan ruangan lainnya. Rak-rak buku yang menjulang tinggi memenuhi hampir seluruh dinding, sementara aroma kertas tua dan kayu memenuhi udara. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, jatuh di atas meja panjang yang tertata rapi.Pagi itu, Rohana mendapat tugas untuk mengambil beberapa catatan lama dari perpustakaan. Ia membawa daftar buku yang harus dikumpulkan, lalu mulai menyusuri rak demi rak.Sesekali ia harus berjinjit untuk membaca judul buku yang terletak di bagian atas. Beberapa di antaranya bahkan terlalu tinggi untuk dijangkau tanpa bantuan tangga kecil.Rohana berhenti di depan sebuah rak. Matanya tertuju pada buku bersampul cokelat tua yang berada di bagian paling atas. Ia mengulurkan tangan, berusaha menariknya, tetapi ujung jarinya hanya berhasil menyentuh punggung buku tersebut.Saat ia mencoba sekali lagi, sebuah tangan muncul dari samping dan mengambil buku itu dengan mudah.“Ini yang ka
Sore itu, setelah menyelesaikan tugasnya di beberapa bagian istana, Rohana menerima panggilan untuk menemui Jerry di kamar pribadinya. Ia sudah menduga apa yang dibutuhkan pangeran itu. Luka di bahu Jerry belum pulih sepenuhnya sejak pertarungan mereka, dan selama bekas tebasan belati elf itu masih terbuka, Jerry tidak bisa membiarkan pelayan lain melihatnya.Rohana membawa kotak perlengkapan pengobatan yang biasa digunakannya. Ia mengetuk pintu dua kali sebelum mendengar suara Jerry dari dalam."Masuk saja, pintunya tidak dikunci," ujar Jerry.Rohana membuka pintu, kemudian masuk sambil membawa kotak obat. Jerry duduk di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang bagian atasnya terbuka. Mantelnya tergeletak di kursi, sementara lengan kirinya bertumpu di atas paha. Begitu melihat Rohana, ia menggeser posisi duduknya agar gadis itu bisa bekerja dengan leluasa."Perbanmu harus diganti," kata Rohana sambil meletakkan kotak obat di meja kecil.Jer
Rohana terbangun dengan napas tersengal. Punggungnya terasa lembap oleh keringat, sementara kedua tangannya mencengkeram seprai seolah baru saja berusaha menyelamatkan diri dari sesuatu yang mengejarnya. Ia masih bisa melihatnya dengan jelas. Gua yang luas, nyala api biru di tengah altar, serta enam sosok berjubah gelap yang berdiri mengelilinginya. Suara-suara mereka terdengar samar dalam ingatannya, tetapi ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: pengorbanan manusia.Rohana duduk perlahan di tepi ranjang. Cahaya pagi menyelinap melalui celah jendela kamarnya, menerangi meja kecil di sudut kamar. Ia menoleh ke sana, kemudian bangkit dengan langkah gontai. Di atas meja terdapat buku catatan yang biasa digunakannya untuk menuliskan hal-hal penting. Rohana mengambilnya, membuka halaman kosong, lalu mencoretkan beberapa garis berdasarkan simbol yang dilihatnya dalam mimpi. Ia berhenti sejenak, memperhatikan bentuk yang baru saja dibuatnya. Ada sesuatu yang terasa akrab. Bukan k
Di balkon menara yang menghadap taman belakang istana, seorang pria berdiri tegap di balik bayang lembut tirai yang berkibar pelan tertiup angin pagi.Pangeran Jerry menatap tajam ke bawah. Matanya, setajam elang, terkunci pada dua sosok di taman, Sebastian dan Rohana.Meski wajahnya tampak tenang,
Dean berdiri di depan pintu penginapan, bersandar dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya yang tajam terarah ke ujung jalan, seolah ia sudah menunggu dua sosok yang kini berjalan mendekat perlahan. Begitu melihat mereka, alisnya langsung berkerut.“Kalian berdua dari mana saja?”
Pagi buta menyelimuti desa Dawnshire dalam selubung awan kelabu.Meski hujan telah berhenti sejak tengah malam, aroma tanah basah masih terasa kuat di udara, bercampur dengan dinginnya embun yang menggigit kulit. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan pinus, menambah kesuraman desa yang biasan
Sementara itu, sang juru bicara masih dengan semangat memperkenalkan pangeran-pangeran lainnya, suaranya bergema di seluruh alun-alun istana. Namun, semua itu hanya menjadi latar belakang bagi Rohana. Fokusnya tak beralih dari sosok yang telah menarik perhatiannya, Felix. Setiap gerakan pria itu,







