Panggilan yang baru saja terputus itu tidak sama sekali membuat hati Alpha terluka. Padahal hampir bermenit-menit dia menahan emosi karena kecaman dan hinaan terdengar dari mulut pria tua yang tak lain kakeknya itu. “Terima kasih, Vio. Kamu menepati janjimu,” ucapnya lirih dengan senyum terbit dari bibirnya. Tangannya mengemas dan mengusap jemari sang istri lalu menatap wajah wanita yang terpejam itu. “Sayang. Bangunlah. Hari ini perjodohan itu kandas begitu saja tanpa aku harus bersusah payah.” Kembali ucapnya. “Maaf, Tuan. Anda tidak bisa masuk. Pasien sedang bersama dengan suaminya.” Pria itu hanya memandang sosok Alpha yang sedang duduk sambil meremas dan mengisap jemari istrinya. “Sudah berapa lama dia koma?” “Hampir tiga hari ini, Tuan. Pasien terkena putus saraf karena musibah itu.” Ada tarikan napas yang tidak baik-baik saja. “Apa ada kemungkinan pasien akan sadar?” “Itu tergantung keajaiban Tuhan, Tuan. Kembali sosok itu menghela napas berat. Lantas berjalan de
Magbasa pa