Gegara dapat signal baik dari mamanya Zalfa, Arlo jadi tidak bisa tidur. Rasanya sudah tidak sabar menunggu bertemu pagi. Sudah lama sekali dia mendambakan jawaban baik dari Jena, akhirnya pria itu mendapatkan kesempatan kembali. "Arlo, kamu sudah bangun sepagi ini?" "Sudah Ma, Zalfa kan bobo sama aku. Jadi aku jagain semalaman." "Kamu nggak tidur?" "Tidur lah, masa nggak. Zalfa sangat pengertian, dia tidak rewel sama sekali. Kayaknya sih terlalu nyaman di kasurku." "Terus kenapa sepagi ini sudah rapih? Bukannya ini hari libur, kamu mau ada acara?" "Iya, mau jemput eyangnya Zalfa, aku mau ngelamar Jena, Ma," jawab pria itu semangat sekali. "Arlo, kamu ini mimpi ya, makanya bangunya kepagian. Jena saja belum bangun kamu malah mau lamaran. Yang waras Arlo, mama tahu kamu sangat menginginkan Jena kembali, tapi jangan begini. Nanti beneran loh mama bawa kamu ke psikiater." "Duh ... mama, aku nggak gila. Cuma tergila-gila aja sih sama mamanya Zalfa. Hehe ... tenang Ma, a
Read more