"Ah, sial, kenapa aku jadi mikirin dia sih. Bukannya ini yang aku mau, berpisah darinya dan menikahi Risa."Arlo hanya merasa tidak nyaman, mungkin karena belakangan selalu satu ranjang dengan Jena, mendadak sekarang seperti orang lain saja. Keesokan paginya, dia kembali tidak menemukan Jena di meja makan. Namun, entah kenapa ibunya malah tenang-tenang saja. "Ma, Jena belum pulang? Bukannya dia ada kuliah ya.""Belum, dia anak yang bertanggung jawab, pasti tidak akan bolos untuk hal yang tidak bermanfaat," jawab Bu Najwa tenang. "Mana tuh terlalu manjain dia nggak sih. Makanya dia kaya nglunjak.""Biasa aja, Jena menjadi tanggung jawab kami sekarang. Kamu tidak usah repot lagi mengenai dia. Kamu urus saja Risa-mu yang baik itu.""Ma, kenapa jadi bawa-bawa Risa, aku tahu mama membencinya. Kalau Mama bisa sayang sama Jena, seharusnya Mama juga bisa belajar menerima Risa.""Suatu hari nanti kamu akan tahu alasannya. Sudah lah Arlo, tak ada gunanya Mama berdebat denganmu."Bu Najwa sud
더 보기