Kediaman utama Leonidas Varmadeo malam itu tampak seperti istana. Ratusan lampu kristal menggantung megah, memantulkan kemewahan pada lantai marmer yang dipoles hingga mengkilap. Karpet merah membentang dari lobi hingga ke aula utama, di mana denting piano klasik berpadu dengan gumam halus para tamu dari kalangan elit.Aira melangkah dengan jemari yang bertaut erat pada lengan kokoh Adriel. Setiap pasang mata yang mereka lewati seolah-olah sedang mengawasi keberadaannya. Ia bisa merasakan bisikan-bisikan tertahan, tatapan penuh selidik, dan binar iri yang diarahkan padanya. Namun, kehadiran Adriel yang menjulang di sampingnya, menjadi satu-satunya dinding yang melindungi Aira dari rasa ciut."Tegakkan kepalamu," bisik Adriel tanpa menoleh.Aira menarik napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang menggila, dan menegakkan punggung sesuai instruksi Gio tadi sore.Di ujung aula, Leonidas Varmadeo berdiri dengan wibawa yang absolut. Pria itu mengenakan setelan tuksedo klasik, tam
Baca selengkapnya