Arvin, yang tidak menyadari kehadiran sosok tinggi menjulang di ambang pintu balkon, masih mencoba melanjutkan gurauannya. Namun, tawa Aira yang terhenti secara tiba-tiba dan sorot matanya yang dipenuhi ketakutan membuat Arvin akhirnya menoleh.Adriel tidak bergerak. Ia berdiri mematung di bawah cahaya temaram lampu dinding. Di balik topeng hitamnya, mata Adriel berkilat tajam, terkunci lurus pada sosok Arvin. Seolah pemuda itu adalah hama yang perlu segera disingkirkan.Aira bisa merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia tahu Adriel sedang mengawasinya."Arvin," bisik Aira parau, suaranya gemetar. "Sebaiknya... sebaiknya kamu masuk sekarang. Acara utamanya pasti sudah dimulai."Arvin mengernyitkan dahi, ia melirik ke arah Adriel yang masih diam di tempatnya, lalu kembali pada Aira. "Aira? Kamu baik-baik saja? Kamu pucat sekali. Pria itu—""Aku tidak apa-apa," potong Aira cepat, lebih keras dari sebelumnya. "Tolong, pergilah. Aku hanya... aku butuh
최신 업데이트 : 2026-02-15 더 보기