Adriel melangkah keluar terlebih dahulu. Pria itu mengulurkan tangan ke dalam kabin mobil, menuntun Aira yang melangkah turun dengan tubuh lemas.Dua bilah pintu kayu jati raksasa lobi utama terbuka dari dalam.Nora melangkah terburu-buru menghampiri mereka dengan wajah yang dipenuhi cemas."Nyonya Aira, Tuan Adrie," sapa Nora, membungkukkan tubuhnya sedikit. "Saya dan seluruh staf mansion ikut berduka cita yang mendalam atas berpulangnya Tuan Besar Guntur."Aira menatap Nora, menyunggingkan senyum tipis. "Terima kasih banyak, Nora..."Adriel melirik Nora. "Bagaimana kondisi EJ selama kami di pemakaman, Nora?""Nona kecil sangat tenang, Tuan," jawab Nora. "Setelah minum susu tadi siang, Nona EJ langsung terlelap. Sama sekali tidak rewel."Adriel mengangguk, menepuk pelan bahu Nora. "Antar Aira ke kamar EJ. Biarkan Aira memeluk anaknya sejenak.""Baik, Tuan Adriel," sahut Nora patuh, mengekor di belakang langkah Adriel yang menuntun Aira menaiki anak tangga marmer menuju lantai dua.Ai
Read more