"Hahaha..."Sebuah tawa bergema dari Adriel Varmadeo."Gaya bicaramu sungguh menarik, Pak Kusuma," tutur Adriel dengan senyuman tipis. "Aku hampir lupa betapa tingginya rasa percaya diri para tetua yayasan Ragendra."Helaan napas lega seketika terdengar saling bersautan di sekeliling meja makan bulat tersebut."Aduh, Sir V..." sahut Pak Kusuma, tersenyum canggung. "Anda ini suka sekali bercanda. Soal Nyonya Aira... tentu saja kami menghormati beliau sewaktu beliau memegang pimpinan yayasan. Namun, tekanan media masa kini menuntut sosok yang lebih tegas dan berpengalaman, bukan?""Tentu," sahut Adriel singkat, mengangguk-angguk kecil. "Pilihan yang sangat logis bagi para tetua yang memikirkan keuntungan aset."Pak Kusuma menuangkan kembali teh tieguanyin ke cangkirnya, mencoba menegakkan kembali posisi tubuhnya. "Nah, karena Anda sudah memahami posisi kami, Sir V... sebaiknya kita bicara jujur. Untuk apa sebenarnya Anda menyewa ruang ini dan mengumpulkan kami berlima?"Adriel melirik t
Read more