Selena berdiri mematung di dekat jendela, kedua tangannya saling bertautan erat untuk menyembunyikan getaran hebat yang menyerang jemarinya. Di depannya, Leonidas Varmadeo duduk dengan tenang. Namun, ketenangan Leonidas justru seribu kali lebih menakutkan bagi Selena.Pria tua itu perlahan melepas kacamata bacanya, lalu menyeka lensa dengan kain sutra kecil, seolah-olah Selena bukanlah ancaman besar yang perlu segera ia hadapi."Duduklah, Selena," ucap Leonidas pelan.Selena menurut. Ia duduk di hadapan pria yang selama ini menjadi sosok pelindung sekaligus tangga bagi kariernya yang gemilang.Leonidas menatap Selena dalam-dalam. Ada kilat kekecewaan yang nyata di matanya. "Selama bertahun-tahun, aku melihatmu tumbuh. Aku melihat kecerdasanmu, ketekunanmu, dan ambisimu yang sangat besar. Aku memberimu posisi, fasilitas, dan kepercayaan yang bahkan tidak kudapatkan dari anak-anakku sendiri."Leonidas menarik napas panjang. "Jujur saja, Selena... ada satu bagian dalam hatiku yang dulu s
Última actualización : 2026-03-02 Leer más