Hening yang mencekam menyelimuti ruangan. Pernyataan Alex yang blak-blakan, yang terdengar seperti deklarasi perang sekaligus lamaran gila, membuat waktu seolah berhenti berputar. Olivia terpaku, bibirnya sedikit terbuka, mencoba mencerna kegilaan yang baru saja didengarnya. Ia tahu Alex luar biasa, ia tahu pesona tunangannya itu sulit ditolak, dan ia bahkan pernah setengah bercanda menyetujui ide poliandri karena rasa cintanya yang begitu dalam. Namun, mendengarnya diucapkan dengan nada begitu serius, di hadapan Ratu Negeri Heliox, membuatnya kehilangan kata-kata. Sementara itu, Auriel, sang Ratu yang agung, tidak menunjukkan ledakan kemarahan seperti yang diperkirakan. Sebaliknya, sorot mata peraknya yang tadinya menuntut kini meredup, digantikan oleh bayang-bayang kelelahan dan keputusasaan yang mendalam. Tekanan aura yang dipancarkannya perlahan menyurut, menyisakan keanggunan yang rapuh. Auriel menatap Alex lama, seolah mencoba mencari kebohongan di mata pria itu. Namun, yang
Read more