Jerom tersenyum tipis, "apa kau tahu siapa saja orang berpengaruh diibukota yang hadir diruangan ini?" Dan Alex langsung membalasnya, "Tidak perduli siapa dibelakang mu, menyentuh orangku... Aku tak segan untuk melawan... Datang satu kubunuh satu datang dua kubunuh dua, datang seribu Takan ku sisakan satupun..." Jerom tidak langsung marah. Sebaliknya, senyumnya justru melebar perlahan. Senyum penuh keyakinan, seolah-olah ia baru saja mendengar sesuatu yang sangat menggelikan. “Kalau begitu… biar aku buka sedikit wawasanmu.” Ia berdiri perlahan dari kursinya. Suasana di ruangan langsung menegang. Orang-orang di belakangnya juga tampak lebih tegap, seakan momen ini adalah sesuatu yang sudah mereka tunggu. “Di ibukota ini… kekuatan bukan hanya soal uang atau kekerasan.” Ia mengangkat satu jari. “Pertama… Reputasi” Layar di belakangnya berubah, menampilkan simbol lembaga besar yang mendukung keluarga Mahesa. “Mereka yang mengendalikan arus modal, investasi, dan stabilitas ekonom
Read more