...menggeleng lesu, lalu berkata, "Jangan dibangunin, Om, nanti Ibu marah."Penasaran akan seperti apa reaksi Rafika, aku pelan-pelan mengangkat kepala, memperlihatkan wajah sekonyong-konyong resah padanya. Padahal, aku sudah menebak, Aditia pasti tidak akan berani mengusik ketenangan adiknya.Sedangkan Rafika, sesuai dugaan, dia tampak cemas. Bahkan, kini sedikit menganga, tapi tidak mengatakan apa-apa.Melewatkan Rafika, aku kembali pada Aditia. "Kalau begitu, kita tunggu sampai Rafni bangun ya," kataku lagi, nada kuatur semeyakinkan mungkin.Aditia mengangguk, tapi hanya sebatas itu. Tidak apa-apa, yang penting dia tidak dulu minta pulang.Setelah itu, barulah kembali kuarahkan wajah pada Rafika. Wanita ini, masih mematung di tempat. Akan tetapi, air mukanya terlihat sudah sedikit lebih baik."Boleh kami masuk sekarang?""Ya, tentu, mari!" Rafika menyambut lebih dari sekadar antusias.Hunian pribadi Rafika ini adalah sebuah rumah minimalis, yang tidak seberapa luas. Aku perkirakan
Last Updated : 2026-05-02 Read more