Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah gorden apartemen Arga yang tampak lebih sempit dari biasanya. Siska terbangun dengan perasaan yang sangat berat, seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya. Di sampingnya, Arga masih tertidur lelap. Wajah pria itu tampak begitu damai, namun gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari kelopak matanya yang sedikit menghitam. Siska menyentuh ujung rambut Arga dengan sangat hati-hati, takut gerakan sekecil apa pun akan membangunkan pria itu dari mimpinya. Pikiran Siska melayang pada pesan misterius semalam. Pesan itu benar, Arga adalah seorang pangeran yang seharusnya bertahta di gedung pencakar langit, bukan pria yang harus memikirkan bagaimana cara membayar listrik atau mencari investor baru sambil makan mie instan bersamanya. "Jika aku benar-benar mencintaimu, Ga, aku tidak boleh membiarkanmu hancur," bisik Siska lirih. Suaranya pecah, tertahan di tenggorokan. Siska mulai tenggelam dalam logikanya sendiri. Sebuah logika
Read more